It's just my notes.

Maybe it's not important to you, but it's mine!

Pengangguran ala Andrea Hirata

Aku telah lulus sebagai sarjana telekomunikasi, dimana aku mendapat embel-embel S.T. dibelakan namaku sejak Maret 2008. Sampai saat ini, belu m ada nama perusahaan yang bisa aku tuliskan dalam daftar riwayat pekerjaanku. Atau dengan kata lain, aku telah menganggur melebihi perkiraan awal masa nganggurku. Ah… masi belum waktunya aku mendapatkan jalan rezekiku.
Dua hari yang lalu aku mangantar temanku ke sebuah toko buku untuk mencari dan membeli buku berjudul “Secret societie : 21 Organisasi pernghancur dunia”. Disana aku bertemu buku yang telah lama aku nantikan terbitnya, “Mayamah Karpov”, buku ke-empat dari Tetralogi Laskar Pelangi, Novel yang inspiratif karya Andrea Hirata. Kemarin aku baca sampai Mozaik 21, Barbara, halaman 129 dan 130, berbunyi :

Betapa tak menyenangkan hidup menganggur. Hidup diatas dua puluh lima tahun, masih makan beras jerih payah orangtua, masih berteduh di bawah atap rumah orangtua yang beranjak udzur, adalah bentuk penderitaan diam-diam, persis kanker usus dua belas jari yang kronis.Aku telah mengambil hikmah dari pengalaman pahit hidupku, tapi nyaris tak ada hikmah apapun dari menganggur. Para penganggur bertempur setiap hari melawan rasa pesismis yang menggerogoti pelan-pelan, waktu yang hampir habis, kesempatan yang kian tipis, saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, dan harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang tak terlupakan. Perang yang tak pernah di buatkan novel dan film. Sekarang aku mafhum mengapa para penganggur sering tampak seperti orang linglung. Dan, mataku terbelalak membaca angka pengangguran di Indonesia mencapai puluhan juta orang? Begitu banyak orang menderita disini? Sudahkan kukatakan padamu, Kawan, di negeri ini, mengharapkan bahagia datang dari pemerintah,agak sedikti riskan.

Begitulah penjabaran kondisi pengangguran oleh Andrea Hirata. Sedikit banyak ada yang sesuai dengan apa yang kurasakan saat ini, ” bertempur setiap hari melawan rasa pesismis yang menggerogoti pelan-pelan”. Aku tidak ingin kalah dengan rasa pseimis itu, aku ingi berjuang hingga kudapatkan jalan rizkiku. Aku masih sangat yakin bahwa Alloh telah memberi jatah rizki untuk setiap umatnya, dan akan dibukakan sesuai dengan usahanya. Sabar, adalah kata yang paling ampuh untuk mengobati dan untuk melawan sang pesimis. Perjuangan masih panjang, dan aku tak kan menyerah sampai disini.

-tjahrembanx-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: